Kepemimpinan Gereja dan Budaya Koreksi

0

Kepemimpinan Gereja dan Budaya Koreksi

Suksesi kepemimpinan, baik dalam kepemimpinan Rohani (Sinodal Gereja) ataupun kepemimpinan sekular, seringkali memunculkan tanggapan baik positiv maupin negativ . Hal ini adalah bagian dari dinamika yang tak terhindarkan dalam sebuah organisasi.
munculnya tanggapan ini karena berbagai faktor, termasuk perbedaan pandangan dan visi. Berbagai tanggapan muncul, dari dukungan hingga kritik. Perbedaan ini seharusnya tidak dilihat sebagai ancaman, melainkan sebagai tanda bahwa gereja masih hidup dan peduli pada arah pelayanannya.

Kritik ataupun koreksi hendaknya dipandang sebagai usaha membangun iman dan bukanlah penolakan terhadap otoritas rohani. Justru sebaliknya, kritik yang disampaikan secara bertanggung jawab adalah bentuk kasih dan kepedulian. Alkitab mengingatkan, “Besi menajamkan besi, orang menajamkan sesamanya” (Ams. 27:17). Gereja menjadi lemah bukan karena dikritik, tetapi karena menutup diri terhadap koreksi.

Kepemimpinan sinode memikul amanah gembala yang besar, bukan hanya secara struktural, tetapi juga secara moral dan spiritual. Karena itu, cahaya transparansi, akuntabilitas, dan sikap mau mendengar menjadi kunci penting membangun kembali kepercayaan jemaat. Rasul Petrus menasihatkan para pemimpin agar menggembalakan umat Allah dengan tulus, “jangan karena mau mencari keuntungan” (1 Ptr. 5:2).

Di tengah dinamika ini, gereja dipanggil untuk kembali pada teladan Kristus yang abadi: memimpin dengan kasih, melayani dengan kerendahan hati, dan berani memperbaiki diri. “Ujilah segala sesuatu dan peganglah yang baik” (1 Tes. 5:21) adalah prinsip sederhana namun relevan bagi kepemimpinan gereja masa kini.

Pada akhirnya, budaya koreksi bukanlah tanda perpecahan, melainkan jalan pendewasaan rohani. Gereja yang mau dikoreksi adalah gereja yang terus bertumbuh dan tetap relevan di tengah perubahan zaman.

Tenny

About The Author

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *