GANDENG GITJ PEWARNA GARAP FESTIVAL BONDO

0

PEWARNA Indonesia menggandeng Gereja-Gereja GITJ di Jepara mengelar acara Festival Bondo di Bondo, Bangsri, Jepara. Bondo merupakan salah satu desa di Kecamatan Bangsri di bawah adminstrasi Kabupaten Jepara, provinsi Jawa Tengah. Di sana ada berbagai potensi wisata di sana, seperti wisata bahari dan wisata rohani, yang kalau dikelolah dengan lebih baik oleh masyarakat dan pemerintah setempat, hal ini akan sangat berdampak positif buat masyarakat dan pemerintah setempat dan Jepara akan semakin dikenal ke manca negara bukan hanya ukirannya saja.

Dikutip dari sistem informasi desa Bondo. Di tahun 1860 seorang pria bernama Laut Gunowongso yang berasal dari Simongan, Semarang bekerja dan menetap di cumbring, Jepara. Suatu malam dia bermimpi bertemu dengan orang tua yang mengenakan pakaian hitam, dan memintanya membangun perdukuhan di sebelah utara Jepara. Setelah berpikir dan diberi izin oleh istrinya, Gunowongso mulai berjalan ke arah utara dengan 8 pengikutnya. Setelah melalui perjalanan yang jauh, rombongan Gunowongso beristirahat di bawah pohon jati besar yang terletak tidak jauh dari laut. Gunowongso menetapkan daerah yang menjadi tempat istirahatnya ini menjadi Hutan Bondo yang akan dibuat pedukuhan.

Di tahun 1865 Daerah Bondo mulai dihuni oleh kerabat Gunowongso dari Cumbring. Setelah itu Bondo menjadi daerah yang makmur dengan dibukanya lahan pertanian. Sahabat Gunowongso yang bernama Ibrahim Kiai Tunggul Wulung mendengar kabar bahwa sahabatnya telah membuka perdukuhan. Mendengar kabar tersebut Tunggul Wulung pergi ke Bondo dan meminta izin kepada Gunowongso untuk membuka hutan di sebelah utara tempat tinggalnya, dan Gunowongso mengizinkannya. Tunggul Wulung berhasil membuka hutan dan membuat perdukuhan baru yang diberi nama Ujung Jati.
Sejarah mencatat, dalam perkembangan gereja-gereja yang didirikan olah orang-orang awam dan penginjil Jawa bersifat integratif. Mereka mendorong orang-orang Jawa untuk tetap menjadi bagian dari budaya dan masyarakat mereka, oleh sebab itu jemaat ini dapat tumbuh secara pesat. Jemaat ini pulalah yang dikembangkan oleh Kiai Ibrahim Tunggul Wulung di kawasan Gunung Muria.Melihat potensi wisata yang ada di sana dan untuk membangkitkan gairah wisata yang ada di sekitar situ, khususnya wisata rohani. Tahun ini Persatuan Wartawan Nasrani (PEWARNA) Indonesia bekerja sama dengan Gereja GITJ di sana menggelar perdana FESTIVAL BONDO 2023, dimulai 8 November -11 November 2023. Ketua umum PEWARNA berharap acara ini akan dijadikan agenda tahunan.

Berbagai kegiatan menarik memeriahkan Festival Bondo tahun ini, di antaranya: Ada Camp Jurnalis, seminar kesehatan, sosialisasi dari Bawaslu. Ada juga layanan kesehatan gratis, beda film dokumenter, dan pada hari terakhir ditutup dengan Carnaval kelilingi Desa Bondo.

Festival Bondo digelar karena PEWARNA melihat ada potensi cukup besar di sektor wisata yang belumdilahbsecara maksimal. Untuk itulah diharapkan dengan acara ini dilakuan secara tahunan akan mendorong kemajuan di sektor pariwisata, dan ika sektor pariwisata berkembang, dengan sendirinya akan terbuka peluang kerja bagi masyarakat setempat dan dengan demikian sektor ekonomi juga akan meningkat.

Masyarakat setempat sangat antusias menyambut acara ini, sebagai mana ungkap. Subandrio seorang warga setempat l, “warga .merasa senang dengan adanya festival Bondo ini. Berharap tujuan acara untuk memperkenalkan Desa Bondo menjadi desa wisata dapat terwujud”. Lebih lanjut, rohaniwan Gereja GITJ ini berharap bahwa acara karnaval yang menjadi bagian dari Festival Bondo ini dapat berlanjut setiap tahunnya. Dia juga berharap kepala Desa Bondo dapat memasukkan acara karnaval ini dalam program desa.

Searah dengan pendapat warga tadi, Kepala Desa Bondo, bapak H. Purwanto. melihat acara ini sebagai hal yang positif.dan upaya memperkenalkan desa Bondo lebih dikenal luas dan menjadi salah satu destinasi wisata di Jepara. Hal ini adalah sebuah peluang bagi masyarakat. Desa Bondo, ungkap Pak H. Purwanto. Kepala Desa Bondo tersebut. Beliau menyambut baik Festival Bondo ini,. Dukungan ini diwujudkan dengan mengijinkan menggunakan fasilitas desa, seperti Balai Desa bisa digunakan jika diperlukan. Begitu juga dengan Pemerintah Kecamatan dan.Kabupaten juga mendukung. Sampai-sampai Pemkab Jepara melipatkan instasi-instasi yang terkait. Bukan hanya itu Bawaslu dari tingkat Pusat, Provinsi dan Kabupaten juga tidak ketinggalan. Mereka memberikan penyuluhan terkait pemilu akan datang dari Polres berikan barang untuk hadiah.
Dikutip dari sistem informasi desa Bondo. Di tahun 1860 seorang pria bernama Laut Gunowongso yang berasal dari Simongan, Semarang bekerja dan menetap di cumbring, Jepara. Suatu malam dia bermimpi bertemu dengan orang tua yang mengenakan pakaian hitam, dan memintanya membangun perdukuhan di sebelah utara Jepara. Setelah berpikir dan diberi izin oleh istrinya, Gunowongso mulai berjalan ke arah utara dengan 8 pengikutnya. Setelah melalui perjalanan yang jauh, rombongan Gunowongso beristirahat di bawah pohon jati besar yang terletak tidak jauh dari laut. Gunowongso menetapkan daerah yang menjadi tempat istirahatnya ini menjadi Hutan Bondo yang akan dibuat pedukuhan.

Di tahun 1865 Daerah Bondo mulai dihuni oleh kerabat Gunowongso dari Cumbring. Setelah itu Bondo menjadi daerah yang makmur dengan dibukanya lahan pertanian. Sahabat Gunowongso yang bernama Ibrahim Kiai Tunggul Wulung mendengar kabar bahwa sahabatnya telah membuka perdukuhan. Mendengar kabar tersebut Tunggul Wulung pergi ke Bondo dan meminta izin kepada Gunowongso untuk membuka hutan di sebelah utara tempat tinggalnya, dan Gunowongso mengizinkannya. Tunggul Wulung berhasil membuka hutan dan membuat perdukuhan baru yang diberi nama Ujung Jati.
PEWARNA Indonesia menggandeng Gereja-Gereja GITJ di Jepara mengelar acara Festival Bondo di Bondo, Bangsri, Jepara. Bondo merupakan salah satu desa di Kecamatan Bangsri di bawah adminstrasi Kabupaten Jepara, provinsi Jawa Tengah. Di sana ada berbagai potensi wisata di sana, seperti wisata bahari dan wisata rohani, yang kalau dikelolah dengan lebih baik oleh masyarakat dan pemerintah setempat, hal ini akan sangat berdampak positif buat masyarakat dan pemerintah setempat dan Jepara akan semakin dikenal ke manca negara bukan hanya ukirannya saja.
Kita: Nama Tunggul Wulung bagi para pemerhati sejarah umum maupun sejarah Gereja sudah tidak asing lagi.. sebagaimana ditulis dalam Wikipedia. Ibrahim Tunggul Wulung (1800-1885) adalah seorang penginjil pribumi pada awal abad ke-19 di kawasan Jawa Timur, Jawa Tengah, Jawa Barat dan Banten. Kekristenan di Pulau Jawa sendiri tidak lepas dari peran para penginjil awam seperti F.L. Anthing, C.V. Stevens-Philips dan para penginjil pribumi seperti Kiai Sadrach, Paulus Tosari serta Kiai Ibrahim Tunggul Wulung pada masa itu.

Sejarah mencatat, dalam perkembangan gereja-gereja yang didirikan olah orang-orang awam dan penginjil Jawa bersifat integratif. Mereka mendorong orang-orang Jawa untuk tetap menjadi bagian dari budaya dan masyarakat mereka, oleh sebab itu jemaat ini dapat tumbuh secara pesat. Jemaat ini pulalah yang dikembangkan oleh Kiai Ibrahim Tunggul Wulung di kawasan Gunung Muria.
Pada puncak acara terlihat ada yang menggunakan baju adat Dayak, ketik ditanya. Mereka bilang, “kami dari Kalimantan Tengah”. Sekalian dari Kalimantan hadir juga dari, Banten, Jasa Barat, Jawa Timur dan Jakarta.l. Berharap tahun depan yang hadir dari luar Jepara akan lebih banyak.(QQ) by

About The Author

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *